Penjaga Masjid itu ternyata bukan orang “biasa”

Bismillahirrohmanirrohiim

Beberapa hari yang lalu saya sedang berada di kota Surabaya dalam rangka mengunjungi sepupu saya 😀 Kebetulan berada di daerah Jalan Pumpungan 3 dekat STIKES ABI. Di deket kosnya ada sebuah masjid yang tidak terlalu besar tapi cukup bagus dan bersih. Saat adzan berkumandang, saya sempat sedikit jengkel karena adzan kok dibuat main-main. Semacam gak niat dan saya rasa tidak ada unsur mengagungkannya. Padahal adzan merupakan salah satu seruan bagi umat Muslim untuk mendirikan shalat. Awalnya saya mengira yang adzan itu adalah anak kecil jadi saya masih bisa memaklumi, lagian setelah saya tanya saudara saya dia juga tidak tahu siapa yang adzan.

masjid

masjid

Di masjid tersebut, saya melihat seseorang yang sudah cukup tua berpakaian sederhana dengan sarung dan peci. Terlihat agak berbeda dengan lainnya tapi saya tidak terlalu memperhatikan. Menjelang ashar saya kembali ke masjid itu, saya masih melihat orang tua tadi. Ketika mengambil wudhu, kemudian adzan berkumandang. Muadzin yang sama, pikir saya. Karena penasaran saya memasuki masjid untuk melihatnya. Dan ternyata dugaan saya salah, ternyata yang adzan bukan seorang anak kecil melainkan orang tua yang saya anggap beda tadi.

Dengan seksama saya perhatikan. Beliau adzan memang dengan tidak biasa dan berbeda dengan muadzin biasanya. Beliau adzan dengan setengah bungkuk sambil berjalan ke kanan ke kiri seolah tak mau diam. Buat saya malah mirip seperti orang (maaf) “autis”. Lalu tiba-tiba, saya tersadarkan. Subhanallah, beliau yang mungkin “tidak normal” ini justru menjadi muadzin dan mungkin sekaligus menjadi penjaga masjid ini. Mungkin terlihat sepele tapi buat saya menjadi penjaga masjid dan muadzin itu adalah sesuatu hal yang mulia. Dengan ikhlas menjaga dan memakmurkan masjid sekaligus mengumandangkan adzan agar orang-orang segera mendirikan sholat.

Seketika saya merasa air mata saya ingin meleleh namun saya masih sanggup menahannya. Pengalaman ini begitu membekas di hati saya. Kalau beliau yang seperti itu saja bisa memakmurkan masjid, kenapa saya yang tak kekurangan ini tidak bisa? Insya Allah dari sini pelan-pelan saya akan memakmurkan masjid, dan memulai untuk mencintai rumah Allah itu. Semoga Allah memuliakan dan meninggikan derajat beliau bapak muadzin, aamiin . . . :)

Yaa segitu dulu sedikit cerita tentang perjalanan singkat saya. Sekiranya ada manfaat buat pembaca ya Alhamdulillah. :)

Terima kasih  :sungkem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *