Subhanallah, “Keajaiban Kecil” Itu Datang dari Niat Sodaqoh

Bismillahirrohmanirrohiim

Menginjak tanggal terakhir di bulan September, saya punya cerita menarik yang Insya Allah ada hikmah di sana. Begini ceritanya sobat,

Saya punya seorang sahabat, sebut saja namanya Fulan. Akhir-akhir ini Fulan sedang banyak pikiran. Kalau istilah trend anak sekarang disebut dengan GALAU :D Seperti biasa pikiran yang mengganggu itu adalah tentang asmara. Memang buat anak muda masalah asmara atau cinta adalah masalah yang krusial. Mungkin saya sedikit hiperbolis nih, tapi ya emang gitu adanya. Kalo udah dapat masalah itu pasti bawaannya sewot, galau, tidak tenang, susah tidur, sampai gejala gangguan pencernaan :D Tapi alhamdulillah Fulan adalah seorang muslim yang senantiasa mencoba untuk tawakkal.

galau

Nah, suatu hari Fulan sedang dalam puncak kegalauan setelah kekasihnya ada indikasi mulai meninggalkannya dan lebih memilih pemuda lain. Fulan bingung, cemburu, dan sedih mengetahui hal itu. Di tengah emosi yang sangat labil, Fulan tidak ingin menghubungi kekasihnya karena jarak memisahkan mereka hehe :D Akhirnya Fulan dengan meyakinkan hati bahwa satu-satunya yang dapat memberikan ketenangan hati adalah bermunajat kepada Allah.

Fulan bergegas pergi ke masjid untuk mengadu kepada Ilahi. Di jalan dia berusaha menahan tangis akibat rapuhnya hati Fulan saat itu. Sesampainya di masjid, Fulan melakukan sholat Tahiyatul Masjid dan saat itulah air matanya meleleh. Tak banyak memang, hanya beberapa tetes saja tapi cukup membuat Fulan merasa bahwa dia tak memliki daya dihadapan Ilahi. Sambil menunggu waktu sholat Isya tiba, Fulan berdzikir, berdoa agar dia diberi ketenangan. Tiba-tiba dia teringat dengan suatu amalan yang bermanfaat besar yaitu sodaqoh. Ya, Fulan ingat jika dia memiliki beberapa rupiah di tabungannya dan dia berniat merelakan itu semua untuk disedekahkan agar Allah menghendaki ketenangan hati dalam jiwanya.

Fulan berpikir bahwa sodaqoh ke anak yatim adalah pilihan yang tepat karena dia tahu anak yatim adalah makhluk mulia di hadapan Allah dan Fulan merasa bahwa sebagai muslim dia belum memenuhi kewajiban untuk menyantuni anak yatim. Fulan ingat ada panti asuhan yang pernah dikunjungi teman-temannya dulu, sebut saja panti asuhan “BAROKAH”. Fulan bertekad untuk menyerahkan uangnya ke panti asuhan itu TAPI dia tidak tahu alamatnya, nomor rekeningnya, ataupun nomor yang bisa dihubungi. Ini membuatnya gelisah hingga saat sholat isya pun dia masih terbayang-bayang panti asuhan itu.

mari bersedekah

Setelah sholat isya dan dilanjutkan sholat sunnah, Fulan bergegas pergi dengan maksud mencari panti asuhan itu. Tekadnya sudah bulat,

“Yaa Allah, telah kubulatkan tekadku untuk menyerahkan uang ini di jalan-Mu. Jikalau ini adalah jalan yang harus hamba tempuh untuk menebus ketenangan jiwa ini, maka Ridhoilah hamba.”

Langkah Fulan terhenti karena tiba-tiba hatinya ragu bahwa pencariannya ini akan sia-sia, lalu dia meraih Al-Qur’an. Dibacanya surat AL-Insyirah karena dia yakin bahwa Allah ada untuk melapangkan jiwa yang sedang kesusahan, memudahkan segala urusan, dan dibalik kesulitan selalu ada kemudahan. Harapannya muncul kembali, dilihatnya beberapa lembar kertas yang berisi dakwah-dakwah keislaman. Kali ini tentang doa-doa yang terkandung pada surat Al-Fatihah. Dibacanya hingga habis, kini hatinya lebih tenang setelah membaca itu. Tapi betapa terkejutnya dia melihat penerbit dan redaksi yang ada di lembaran itu. Ya, Panti Asuhan “BAROKAH” yang ia cari-cari. Di sana lengkap tertera alamat yayasan, nomor rekening, nomor telepon, hingga jajaran pengurus.

Subhanallah, seketika Fulan menangis haru melihatnya. Berulang kali Fulan mengucap syukur dan mengagungkan Ilahi setelah merasa Allah telah menuntunnya untuk mengambil lembaran itu hingga dia tak perlu lagi susah-susah mencari alamat yayasan. Dengan hati bergetar, Fulan melangkahkan kaki menuju alamat itu. Agak jauh memang tapi Fulan sama sekali tak merasa pegal, sesekali air matanya meleleh mengingat pertolongan-Nya. Sesampainya di sana Fulan merasa menemukan kedamaian hati yang luar biasa. Kegalauan itu sirna digantikan dengan perasaan bahagia dan ketenangan hati. Segera dia sumbangkan beberapa rupiah di tabungannya, dan Fulan melangkah pulang dengan hati penuh syukur.

Sobat, mungkin kita berpikir apa yang terjadi secara tiba-tiba itu adalah hal yang kebetulan. Dari cerita Fulan tadi saya bisa mengambil hikmah bahwa kebaikan dengan niat yang kuat dan tulus itu akan mendapat pertolongan dari Allah. Niatnya untuk bersedekah di yayasan Panti Asuhan “Barokah” dengan ditemukannya petunjuk lokasi Panti Asuhan itu buat saya bukan hal yang biasa. Saya yakin Allah SWT tidak menghendaki umatnya kesulitan dalam menunaikan kebaikan. Selama kita percaya bahwa Rahmat dan ampunan Allah SWT itu tak terbatas jumlahnya. Tak perduli siapa kita, asal kita mau bermunajat pada-Nya, mengadu pada-Nya, mengagungkan-Nya, Insya Allah kemudahan itu datang dengan sendirinya.

Subhanallah,,semoga ada manfaat

Semoga tulisan ini bisa dimengerti ya :)