Ubuntu 11.10 review, Unity vs Gnome Shell

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sudah hampir 2 minggu Ubuntu 11.10 dirilis, dan saya baru sempat menuliskan review tentang Ubuntu kali ini. Adanya kendala koneksi internet dan waktu yang kurang memadai memang rasanya kurang logis jadi alibi saya mengingat koneksi internet saat ini melimpah di mana-mana.

Anyway, saya sebelumnya masih betah menggunakan ubuntu 10.04 karena konfigurasinya udah “GUE BANGET”, stabil, dan performanya tidak mengecawakan. Waktu Ubuntu 11.04 rilis, saya sempat nekat install dan ternyata hanya betah 2 jam saja sebelum saya memutuskan untuk kembali ke Lucid. AKhirnya rilis 11.10 muncul dan setelah membaca beberapa komentar yang katanya rilis kali ini lebih baik, saya kembali nekat install dan membuang Lucid saya :(

Kesan pertama begitu menggoda, ya kali ini saya merasa dekstop unity memang lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja tema yang disediakan terbatas, dan saya lebih cenderung memilih warna yang lebih terang.

unity desktop

unity desktop

unity menu

Walaupun agak kurang terbiasa, tapi navigasi menunya membuat saya terpana 😀 Untuk bisa memaksimalkan efek-efek desktop, cukup install compiz config setting manager yang ada di Ubuntu Software Center. Nah Saya sebelumnya sempat kerepotan karena Synaptic Package Manager udah gak ada. Walaupun di Ubuntu Software Center kita bisa mudah mencari aplikasi. Lagi-lagi masalah ADAPTASI 😀 Nanti di compiz manager ada tool untuk tweaking desktop unity kita dari ukuran icon launcher, transparansi, dan efek-efek lainnya.

compiz-unity

compiz-unity

Aplikasi yang lain standar sih menurut saya, hanya saja beberapa aplikasi telah diganti. Misalkan pemutar musik sekarang menggunakan banshee, email client menggunakan thunderbird, hilangnya Synaptic Package Manager, Office Suit menggunakan Libre Office, dan beberapa aplikasi berbasis internet lainnya.

Oke, saatnya mencoba Gnome Shell yang mana pada edisi sebelumnya membuat Unity saya hancur, tapi sekarang udah bisa bersanding dengan baik. 😀 Setelah berhasil install, saya langsung coba. Oh iya, pilihan desktop ini ada di login session. Sebelum login kita bisa memilih desktop yang kita inginkan, dari unity, unity 2D, dan Gnome.

gnome 3 desktop

gnome 3 desktop

gnome 3 window manager

gnome 3 window manager

Sekilas Gnome Shell ini terlihat lebih simpel. Beberapa notifikasi-notifikasi yang muncul mengingatkan saya pada efek-efek JQuery dan java script :D. Untuk mengakses menu dan window manager cukup arahkan kursor ke pojok kiri atas, nanti di sana ada launcher aplikasi-aplikasi favorit, window manager, dan daftar aplikasi. Filter per kategori dan fitur pencarian disediakan untuk memudahkan pencarian aplikasi.

gnome3-menu

gnome3-menu

Ada aplikasi tambahan untuk melakukan tweaking Gnome Shell, yaitu menggunakan advanced setting. Bisa dicari di ubuntu software center. Di sana kita bisa mengatur font, theme, icon theme, gnome shell, dan cursor theme. Dan ternyata hasil dari aplikasi advanced setting ini juga berlaku untuk unity, jadi settingan font, theme, dan sebagainya antara unity dan gnome Shell menjadi sama.

Overall, saya lebih cenderung menyukai gnome Shell karena lebih interaktif dan fleksibel sehingga desktop bisa menjadi lebih menyenangkan 😀

Sekarang saya review dari segi performa. Saya menggunakan laptop acer 4732z dengan dual core T4400 Processor, 3GB RAM, Graphic card intel, dan atheros wireless card. Wireless card terdeteksi dengan baik, hanya saja rewelnya saat wireless card dimatikan jadi susah dihidupin lagi. Kadang bisa kadang gak, ini saya gak tahu kenapa. Yang jelas saya harus restart laptop untuk cari cepatnya 😀 Masih banyak lagi kejanggalan yang cukup mengganggu saya. Pada desktop unity, launcher kadang bermasalah. Di situasi yang tidak saya mengerti, laucher mendadak macet dan saya tidak bisa membuka apa-apa. Fungsi brightness juga tidak berfungsi, lalu saya coba menggunakan cara memperbaiki fungsi brightness linux mint 10 dan ubuntu 10.10 ternyata berhasil.

Selain itu, pemutar musik Banshee sering hang dan tidak stabil. Ini yang membuat saya males pake banshee, rencananya mau pake vlc atau amarok aja. Gak hanya Banshee, software source juga ikut rewel, kadang setelah ganti alamat repository, aplikasinya gak bisa ditutup sehingga menjadi tidak enak dilihat. Keanehan lainnya adalah, saat proses shutdown tiba-tiba macet alias hang. Indikatornya pun diam tak bergerak, dan saya pernah menunggu hingga 15 menit lebih tapi tak ada hasil sehingga saya matikan paksa lewat tombol power laptop.

Dengan kernel 3.0 waktu booting di laptop saya rata-rata 22 detik (udah saya stopwatch), dan waktu shutdown rata-rata 5-6 detik kalo lagi gak rewel. Itupun masih standar alias service yang jalan masih bawaan orok. Padahal setelah lihat review orang-orang, kok waktu shutdown nya dibawah 20 detik bahkan ada yang hampir 10 detik saja. Apa salah laptop saya ya? Hahaha

Namanya juga review memang sifatnya relatif dan bisa saja subyektif. Apalagi kemampuan orang dalam menganalisis sesuatu beda, cara mengungkapkan beda, dan perlakuan objek yang direview juga beda. Tapi semoga aja review ini ada manfaatnya buat semua. Amiin.

Terima kasih sudah membaca

2 Responses to “Ubuntu 11.10 review, Unity vs Gnome Shell”

  1. […] tanpa harus crash dengan Unity seperti yang saya alami sebelumnya. Review-nya bisa di baca di sini. Tapi entah mengapa user sepertinya masih cenderung membandingkan Desktop sebelumnya dengan Desktop […]

  2. […] yang simpel membuat pengguna betah menggunakan desktop ini. Tapi sejak era Gnome 3 datang membawa Unity dan Gnome Shell, teknologi desktop environment mau tidak mau harus ikut […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *