Beberapa hikmah dari film Papa, Mama, dan Tukang Kebun

Bismillahirrohmanirrohiim

Semalam ada film sinema yang menarik. Judulnya “Papa, Mama, dan Tukang Kebun”. Sekilas judulnya lucu seperti cerita anak-anak tapi memang benar ceritanya sederhana namun dikemas dengan menarik, lucu, tapi benar-benar memuat makna yang dalam. Ini kali kedua saya melihat film ini dan masih saja membuat saya tertawa melihatnya.

Jadi cerita singkat film itu seperti ini.

Ada sebuah keluarga pejabat DPR yang hidup damai, menyenangkan, dan penuh keceriaan. Sang papa adalah anggota Dewan yang terhormat, Mama adalah ibu rumah tangga yang lucu dan ceria, serta mempunyai dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Kehidupan mereka sibuk sekali hingga urusan rumah pun diserahkan pada pembantu-pembantu.

Suatu hari si papa berulang tahun tapi kado yang sudah disiapkan si mama mendadak hilang dan buntutnya si tukang kebun menjadi orang tertuduh atas penyebab hilangnya barang tersebut. Si mama yang curiga dengan gelagat tukang kebun akhirnya berprasangka yang tidak-tidak kalau tukang kebun adalah orang yang jahat, pencuri, dan prasangka buruk lainnya. Sampai-sampai keluarga ini terkadang mengadakan semacam rapat keluarga untuk membahas siapa sebenarnya tukang kebun malang ini. Akhirnya diutuslah pembantunya yang lain untuk memata-matai si tukang kebun.

Berbagai macam cara sudah mama lakukan untuk mencari tahu identitas si tukang kebun dan keluarga itu khususnya mama semakin berprasangka yang tidak-tidak hingga suatu hari ternyata mereka mengetahui kado untuk papa itu selama ini yang menyimpan adalah anak perempuan mereka yang paling kecil. Tapi tetap saja mereka masih penasaran dengan tindak-tanduk tukang kebun yang mencurigakan, lalu anak mereka yang laki-laki memutuskan untuk merekam secara sembunyi-sembunyi tingkah laku tukang kebun saat pesta ulang tahun kakaknya nanti.

Ulang tahun si kakak tiba, dan lagi-lagi tukang kebun pulang lebih cepat dan terlihat terburu-buru. Cepat-cepat si anak membuntutinya dengan kamera di tangan. Hingga sampai di suatu perkampungan yang sedikit kumuh, sesak, dan terlihat sangat kontras dengan lingkungan rumahnya yang elit. Si Tukang kebun sampai di rumah dan kedua anaknya yang masih kecil menyambutnya dengan senang berharap ayahnya membawa oleh-oleh.

Yang membuat anak pejabat tadi tercengang adalah, tukang kebun tadi membawa bungkusan berisi es krim yang sudah jatuh saat pesta di rumahnya. Dia berikan es krim itu kepada anak-anaknya sambil berkata bahwa es krim itu pemberian dari anak-anak majikannya. Tentu saja anak-anak tukang kebun itu senang sekali, mengingat ekonomi keluarganya yang pas-pasan, membeli es krim adalah tak lebih dari angan-angan saja.

Keluarga pejabat tadi terhenyak mengetahui kenyataan ini, ternyata tuduhan mereka selama ini salah besar. Tukang kebun itu bukanlah pencuri atau penjahat, dia hanya seorang bapak biasa yang ingin membahagiakan anak-anaknya. Alasan dia terburu-buru untuk pulang cepat saat pesta adalah untuk memberikan es krim yang jatuh tadi kepada anaknya sebelum es krim itu menjadi terlalu cair. Dan berakhirlah film tersebut.

Jangan Berprasangka Buruk

Berprasangka buruk atau dengan kata lain Su’udzon itu dilarang dalam agama karena itu salah satu penyakit hati. Dari prasangka buruk besar kemungkinan menimbulkan fitnah. Lihat saja si Mama yang terlalu besar prasangka buruknya terhadap tukang kebun sampai-sampai menuduhnya sebagai pencuri, dan menceritakan itu kepada rekan-rekannya. Untung saja tukang kebun itu tidak tahu dengan prasangka majikannya. Seandainya tahu dia pasti sakit hati sekali kan.

Lihat akibat lainnya, tanpa sadar berprasangka buruk itu sangat menguras tenaga. Setiap hari si mama gelisah mencari pembenaran dari argumentasinya tapi pada akhirnya setelah tahu kenyataanya bahwa si tukang kebun itu tidak bersalah si mama akhirnya menyesal sendiri. Jadi hindarilah berprasangka buruk terhadap orang lain. Cobalah untuk melihat dari perspektif yang berbeda.

Jangan menuduh tanpa bukti

Tidaklah etis jika menuduh seseorang tanpa bukti. Walaupun tuduhan itu tidak secara langsung diungkapkan pada yang bersangkutan. Menuduh orang bersalah itu mudah lho kalo cuma asal nuduh, tapi apa pertanggung jawaban kita dengan tuduhan kita? Mencari kebenaran itu jangan dengan cara yang salah seperti berprasangka buruk, carilah dengan cara yang baik.

Pekalah terhadap lingkungan sosial

Sebenarnya manusia itu derajatnya hanya pada tingkat iman dan ketaqwaannya pada Allah SWT, bukan pada kedudukan, pangkat, atau strata sosial. Kadangkala kita terlalu terlena dengan apa yang kita miliki sampai-sampai kita lalai untuk menengok ada apa di luar sana. Di film tadi keluarga itu hanya sibuk membahagiakan dirinya sendiri tanpa perduli dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan nama tetangga sebelahnya saja mereka tidak tahu. Apalagi sampai harus memikirkan mereka-mereka yang berekonomi lemah, jelas tak akan terpikirkan. Tapi film itu menyadarkan sesuatu bahwa ada banyak mereka yang diluar sana tidak seberuntung kita. Adalah kewajiban kita untuk saling berbagi dan perduli. Tak perlulah sampai menuntut pemimpin kita untuk perduli tapi tindakan kita untuk perduli sama sekali nihil. Kalau belum terbiasa, mulailah perduli dengan sekitarmu apakah itu keluarga, sahabat, atau tetangga.

Semoga memberi manfaat untuk semua :thumbup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *