Kartini di era informatika

Sekilas judul di atas mengandung sesuatu yang sedikit absurd, karena saya terinspirasi dari sebuah lagu yang dibawakan oleh band indie Efek Rumah Kaca yang berjudul “Kenakalan Remaja di Era Informatika”. Lalu ada hubungan apa antara Kartini muda dengan era informatika? Secara harfiah saya hanya menganalogikan remaja putri pada zaman modern dan canggih ini. Dan dari hal tersebut jelas terdapat sebab akibat yang tercipta dari hubungan kaum remaja putri dengan teknologi.

Bisa dibilang Kartini muda saat ini hidup di era teknologi canggih dan serba praktis. Handphone, smartphone, notebook, dan gadget lainnya begitu mudah didapatkan dengan harga yang relatif terjangkau. Belum lagi banyaknya pengguna yang membuat Kartini muda merasa wajib memilikinya, sehingga tidaklah aneh lagi jika pada usia dini mereka sudah memiliki perangkat tersebut. Ini terjadi berkat kehadiran fenomena social networking yang merambah dunia internet dan munculnya aplikasi-aplikasi pendukungnya pada gadget tersebut. Apalagi jika bukan Facebook dan Twitter yang muncul sebagai killer application di internet.

Kemudian mereka berbondong bondong untuk memiliki akun di Facebook, membangun relasi pertemanan, bertukar cerita, dan menunjukkan eksistensi diri. Tapi kadangkala dalam melakukannya terkesan melewati batas. Begitu percaya dirikah mereka sehingga mereka memasang foto yang terlalu vulgar? Sudah lupakah mereka dengan jati dirinya sehingga mereka tidak malu untuk berkata kotor? Hilangkah norma dalam seorang wanita sehingga mereka berani menunjukkan sesuatu yang tidak senonoh? Walau tidak semua melakukannya, tapi ada banyak Kartini muda terjebak dengan hal itu. Kasihan Ibu Kartini yang sudah jatuh bangun untuk membangun citra yang baik pada perempuan agar mereka dapat mendapatkan kemerdekaan dalam hak dan kewajiban, tapi sekarang justru Kartini mudalah yang perlahan-perlahan merusak citra itu.

Okelah mungkin mereka akan membela diri seperti ini, “Itu kan hak saya dalam mengungkapkan sesuatu”, “Ini kan hanya dunia maya, nyatanya saya kan gak begitu”. Ya kalo berbicara hak itu terserah mereka tapi setidaknya kan hak itu dibatasi oleh hak orang lain dan oleh norma-norma yang berlaku. Walaupun di dunia maya, bukan berarti orang-orang yang memakainya berasal dari dunia maya dengan kata lain mereka juga manusia yang punya akal. Tanpa sadar Kartini muda menjadi bahan eksploitasi dan tak jarang pelecehan seksual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab akibat tindakannya yang kelewat batas. Belum lagi menjadi perbincangan di forum-forum internet sehingga Kartini muda saat ini rentan dengan julukan “Lebay”, “Alay”, dan “Labil”.

Betapa citra seorang perempuan bisa hancur seketika hanya karena lisan, attitude, dan penampilannya. Perempuan yang seharusnya lembut dan halus dalam berucap seketika hancur begitu mengucapkan kata-kata kotor. Perempuan yang seharusnya lemah lembut dalam bersikap seketika hancur begitu berlaku melebihi batas norma hanya karena ingin di bilang keren. Perempuan yang seharusnya menjaga keanggunan dengan menutup aurat justru hancur dengan mengumbar auratnya hanya karena korban mode. Dan semakin parah saat mereka menunjukkan itu di dunia nyata dan dunia maya (internet).

Pengaruh Facebook benar-benar besar bagi perkembangan interaksi sosial remaja jaman sekarang. Dulu perempuan gemar berbagi cerita dengan buku diary, mengisinya dengan hal-hal yang cukup hanya dia saja yang tahu. Orang lain, bahkan keluarganya sendiri bahkan tidak diperbolehkan untuk membacanya. Tapi sekarang, apa-apa update status di jejaring sosial. Bahkan mereka tak perduli itu bersifat privacy atau melanggar hak orang lain. Dari hal kecil hingga besar semua disebarkan melalui media jejaring sosial.

Selepas dari itu semua ini adalah hal yang wajar. ABG adalah sosok yang memerlukan perhatian dan pengalaman menemukan eksistensi diri. Jejaring sosial adalah media yang bisa memuaskan kebutuhan mereka akan perhatian dan eksistensi diri. Yang dikhawatirkan hanyalah, jangan sampai perhatian itu justru datang dengan cara yang salah dan begitu juga dengan eksistensi diri. Bagaimanapun juga perhatian keluarga dan bimbingan orang tua menjadi modal utama agar para Kartini muda ini tidak tersesat arah.

Kreatifitas mereka adalah hal penting, tapi penggunaan teknologi yang keliru berdampak pada penyimpangan kreatifitas ke arah yang kurang baik. Lagi-lagi orang tua dan orang terdekat harusnya mau sedikit belajar teknologi terkini agar bisa membimbing mereka dengan cara yang bisa dimengerti oleh Kartini muda. Mereka hanya butuh cinta untuk bisa meraih cita-cita tanpa harus mengorbankan citra mereka sebagai Kartini muda. Dengan begitu diharapkan akan muncul sosok Ibu kartini yang tangguh, mau berjuang, dan tanpa menyerah untuk bisa meraih cita-citanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *