Ayah Ibuku, Kalian Teladanku

Bismillaahirrohmanirrohiim

“Sebuah dedikasi untuk ayah dan ibu tercinta”

Mempunyai kedua orang tua yang masih sanggup memberikan kasih sayangnya sampai saat ini adalah karunia yang luar biasa bagi saya. Di samping sifat arogan saya yang seringkali melupakan jasa mereka, saya bersyukur sekali mereka masih bisa hadir di tengah-tengah kami.

keluarga

ilustrasi keluarga dari: http://bijakfajar.files.wordpress.com/2010/09/keluarga-bahagia.jpg

Orang tua saya bukanlah orang paling hebat di dunia ini. Mereka hanya manusia biasa yang punya kekurangan dan kelebihan juga. Tapi untuk saya mereka adalah sosok yang paling hebat dalam kehidupan saya. Logis ya, apa iya saya harus membanggakan orang tua orang lain ketimbang orang tua saya sendiri? 😀 Beberapa waktu ini saya berpikir dan mulai menemukan betapa mereka sungguh bisa menjadi teladan dalam kehidupan saya. Saya ulas satu-satu ya.

AYAH

Ayah saya orangnya tegas, keras kepala tapi bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan, mandiri, dan banyak akal. Standar untuk karakter seorang ayah lah ya, tapi dari beberapa karakter di atas saya cuma kebagian keras kepalanya saja. Selain itu saya benar-benar masih butuh belajar.

Ayah saya dididik untuk mandiri dan kerja keras di tengah keluarga besar. Ayah bukan orang yang mengedepankan gengsi dalam bekerja. Dari berdagang, menjahit, tukang tambal ban, jual bensin eceran, semua pernah dilakoni saat muda hingga akhirnya menikah dengan ibu. Satu yang saya pelajari dari ayah adalah kesuksesan itu berasal dari ketekunan dan kerja keras. Saya sempat ikut merasakan saat itu ayah masih belum terlalu lama jadi PNS. Rumah kami masih kecil dan sederhana sekali, sampai akhirnya kami sudah memiliki rumah yang nyaman dan cukup luas bagi saya untuk gulung-gulung di dalamnya 😀

Ayah memang bukang orang yang suka diam, mungkin karena kebiasaan sejak kecil, sampai sekarang beliau termasuk orang yang suka kerja. Dulu jadi penjahit sebagai sampingan, sekarang udah bikin usaha toko dan fotocopy, lalu bikin kos-kosan, dan masih ada beberapa ide yang belum sempat direalisasikan. Bandingkan dengan saya sekarang. Baru ditempa skripsi aja udah kalang kabut, stress, lebih banyak mengeluh daripada mencari solusi terbaik untuk menyelesaikannya.

Mandiri dan tidak bergantung pada orang lain adalah salah satu karakter ayah yang bisa saya teladani. Ayah berprinsip, selama sesuatu itu masih bisa dilakukan sendiri, ya selesaikan sendiri. Tidak perlu menunggu atau menyuruh orang lain untuk menyelesaikannya. Tanpa disadari karakter ini memacu diri untuk kreatif dan serba bisa. Ayah saya waktu membangun rumah dulu hampir tidak pernah absen untuk ikut berpartisipasi. Pagi ke kantor, sore udah berbaur sama tukang untuk ikut kerja. Belum lagi malamnya dilanjutin sendiri. Benda-benda atau perabot rumah rusak? perbaiki sendiri, dan sebagian besar diperbaiki sendiri.

Dari sini saya sudah tidak punya alasan untuk tidak meneladani ayah saya sendiri :thumbup

IBU

Sama seperti ayah, Ibu saya juga manusia biasa yang juga punya kekurangan dan kelebihan. Tapi buat saya, saya tidak bisa mengungkapkan kata-kata yang lebih baik dari apa yang saya rasakan. Saya dan kakak saya sepakat kalau Ibu itu adalah orang yang sangat perhatian dan penyayang. Adakalanya bisa ngomel-ngomel kalau ada sesuatu yang tidak benar terjadi pada saya atau pada apapun di rumah.

Selain sifatnya yang penyayang itu, hampir seluruhnya karakter ibu dan ayah mirip. Suka kerja keras, mandiri, dan tidak bergantung pada orang lain. Ibu udah terbiasa kerja keras bersama ayah untuk masa depan keluarga, jadi saya tidak kaget walau sekarang umur sudah mulai kepala 5, beliau masih semangat kerja jagain toko. Latar belakang keluarga ibu juga pengaruh sih. Ibu tidak tamat SD karena harus konsen bantu nenek ngurus adik-adik ibu yang banyak, jadi ibu tumbuh jadi orang yang penyayang, pendidik anak yang baik, dan juga ramah.

Ya, ramahnya ibu itu yang ingin saya tiru. Sementara ini masih banyak gagalnya mengingat saya sebenarnya orang yang introvert dan agak kaku jika bergaul dengan orang lain. Ibu selalu mendidik saya untuk berpikir ke depan sebelum melakukan sesuatu. Misalkan dulu waktu kecil saat saya dibelikan sepatu atau baju, ibu selalu memilih ukuran yang lebih besar daripada tubuh saya. Saat saya tanya mengapa, jawabannya adalah karena nanti tubuh saya akan semakin besar sehingga saya tidak perlu membeli yang baru lagi. Jujur ini sampai kebawa hingga sekarang. Membiasakan saya berpikir jauh ke depan sebelum bertindak. Konyolnya saya punya sepasang kaos kaki yang umurnya 4 tahun lebih dengan kondisi mengenaskan. Alasan masih saya pakai adalah karena itu cuma kaos kaki, walaupun lubang toh masih ditutupi sepatu, gak perlu beli. Walau akhirnya saya terpaksa beli karena kaos kakinya terkena timbunan semen cor dari tetangga sebelah 😀

Jadi apa ada alasan buat saya untuk tidak meneladani ibu saya? No way! :thumbup

Banyak orang mengambil cermin teladan dari sosok yang terlalu jauh dari kehidupannya. Bukannya salah, tapi kedua orang tua adalah yang paling pas untuk menjadi teladan kehidupan karena kita dalam asuhan mereka sejak kecil. Jasa mereka tidak bisa disamakan dengan apapun. Kalau kita sudah menemukan sosok teladan pada kedua orang tua kita, barulah kita bisa belajar dari orang lain. Ayah ibuku, Kalian teladanku.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan bermanfaat ya, maaf jika terlalu panjang  :sorry

2 Responses to “Ayah Ibuku, Kalian Teladanku”

  1. […] dalam sebuah tulisan di blog Khatulistiwa ini, bahkan sampai ikut ikut di nongol di tulisan “Ayah Ibuku, Kalian teladanku” di Tekno […]

  2. […] Ayah Ibuku, Kalian Teladanku « Tekno Muslim […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *