Jangan Sepelekan Niat dan Ikhlas

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Kita mungkin pernah mendengar bahwa sesuatu yang kita lakukan itu tergantung dengan niat. Yang menarik adalah kadang suatu perbuatan mulia bisa jadi rusak hanya karena niat yang tidak benar. Misalkan saja Saya beramal untuk pembangunan masjid sampai puluhan juta rupiah, tapi dalam hati saya justru niatnya ingin dipandang sebagai dermawan.

ikhlas

sumber gambar: http://umustlucky.blogspot.com

Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”

Seorang ulama saja masih merasa sulit, bagaimana dengan kita?

Niat dan ikhlas itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Idealnya niat itu tujuannya untuk Allah SWT dan dimurnikan dengan yang namanya ikhlas.

Ikhlas berasal dari kata khalasha yang secara bahasa berarti membersihkan. Sedangkan secara istilah artinya membersihkan niat dan motivasi, serta hanya menjadikan Allah sebagai tujuan. Lawan dari ikhlas adalah riya’, yaitu beramal karena mencari keridhaan manusia, ingin dipuji, dan bukan karena Allah.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 264)

Riya itu juga bisa digolongkan dalam sifat munafik kepada Allah SWT. Karena pelaku riya bermaksud menipu Allah dengan berbuat kebaikan tapi sesungguhnya hatinya tidak ada niat untuk itu.

إنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)

Betapa ini semua membuat saya takut, takut apakah niat saya sudah murni dan ikhlas untuk Allah SWT? Terkadang kita sudah menganggap bahwa niat kita benar dan dibarengi dengan ikhlas dalam setiap perbuatan. Tapi seringkali saya takut ada unsur-unsur riya yang terselip tanpa kita sadari. Untuk itulah kita tidak boleh menyepelekan niat dan ikhlas dalam setiap perbuatan kita. Dua hal itu memang mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan. Keduanya butuh pelatihan dan pembiasaan agar setiap niat bisa semakin murni dihadapan Allah SWT.

Maka bisa dikatakan bahwa ikhlas adalah salah satu prinsip yang besar dan penting di dalam agama Islam. Karena hilangnya Ikhlas menjadi sebab tertolaknya amal ibadah. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya orang yang paling pertama akan diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, maka Allah-pun memperkenalkan nikmatNya kepadanya dan diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang engkau perbuat untuk mendapatkan nikmat tersebut? Maka lelaki tersebut menjawab: Aku telah berperang dalam rangka menegakkan kalimatMu sampai mati syahid. Dia membantah lelaki tersebut: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan itu telah dikaitkan kepadamu. Kemudian diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya sehingga dicampakkan ke dalam api neraka. Kemudian seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Maka diapun didatangkan menghadap Allah untuk memperlihatkan nikmatnya sehingga diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang telah engkau perbuat untuk meraih kenikmatan tersebut? Lelaki tersebut menjawab: “Aku belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an semata karena diriMu. Allah membantah: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau menimba ilmu agar dikatakan orang yang alim dan membaca Al-Qur’an agar orang memujimu sebagai orang pandai membaca, dan itu telah dikatakan bagimu, maka diperintahkanlah malaikat menggeretnya di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka. Dan seorang lelaki yang diluaskan rizkinya oleh Allah dan diberikan baginya bermacam-macam harta. Maka dia dihadapkan kepada Allah dan Dia memperkenalkan baginya nikmat-nikmatnya. Lalu Allah bertanya kepadanya: Apakah yang telah kamu kerjakan untuk mendapatkannya? Dia menjawab: Tidaklah satu jalan pun yang engkau senangi untuk diinfaqkan harta padanya kecuali aku menginfakkan harta padanya karena diriMu”. Allah membantahnya: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau mengerjakan perbuatan tersebut agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal tersebut telah katakan bagimu”. Kemudian dirinya digeret di atas wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam api neraka)). Lalu pada saat hadits ini sampai kepada Mu’awiyah maka diapun menangis dengan sejadi-jadinya, lalu pada saat dia telah sadar dia berkata: Maha benar Allah dan Rasul-Nya:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Bisa dicermati bahwa apa yang kita dapatkan adalah tergantung dari niat kita. Sayang sekali jika suatu perbuatan yang seharusnya mulia menjadi sesuatu yang tak bernilai dihadapan Allah SWT ketika kita tidak memperbaiki niat dan keikhlasan kita. Sayang sekali jika ternyata perbuatan kita yang sudah disertai pengorbanan besar bahkan mengorbankan nyawa tapi sama sekali tidak bernilai dihadapan Allah hanya karena niat dan keikhlasan kita tidak benar.

Dalam hadist lain disebutkan:

Dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya’ dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riya’nya” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Yuk setelah ini jangan lagi sepelekan niat dan ikhlas. Mari selalu berhati-hati dalam berbuat khususnya dalam meluruskan niat dan keikhlasan. Minimal biasakan diri untuk mengucap Asma Allah saat beribadah dan mengucap syukur saat menyelesaikannya. :)

Beberapa kutipan saya ambil dari:

http://www.dakwatuna.com/2012/04/19354/ketika-keikhlasan-terabaikan/

Semoga bermanfaat untuk semua :)

 

2 Responses to “Jangan Sepelekan Niat dan Ikhlas”

  1. Dyah Oktavia says:

    Terima kasih mas didik :smile:
    Insyaallah saya akan berusaha meluruskan niat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *