Sebuah Hikmah dari Shaf Sholat Berjamaah

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sholat berjamaah

Hari ini saya seperti biasa menyempatkan diri untuk sholat berjama’ah dhuhur di masjid kampus selepas menyelesaikan urusan di BAK kampus. Kebetulan saya kebagian di shaf kedua dan tanpa saya sadari di sebelah saya ada Bapak Rektor kampus. Saya menyadarinya seusai menunaikan sholat saat bersalaman dengan beliau. Saya memang sering melihat Bapak Rektor atau pejabat-pejabat kampus lainnya saat sholat berjamaah di masjid tidak kebagian shaf pertama. Sepertinya tidak ada yang aneh dengan cerita saya ini, semua nampak biasa saja. Tapi saya justru menangkap sesuatu yang menarik dari hal ini.

Dari Ibnu Umar -radhiallahu anhuma-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 650)

Sholat berjamaah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sarat akan nilai sosial. Di dalam sholat berjamaah itu tidak ada perbedaan ras, suku, jabatan, kaya, miskin, dan lainnya. Siapa saja boleh ikut sholat berjamaah tanpa harus melihat status sosialnya. Bukannya jika kita jadi pejabat lalu harus ada di shaf terdepan, dan mereka yang tidak “level” dengan jabatan kita harus ada di belakang shof kita. Shaf terdepan memang utama tapi bukan untuk kalangan tertentu. Semua memiliki hak yang sama untuk menempatinya. Begitu juga dengan posisi imam. Bukan berarti imam hanya masyarakat biasa lalu pejabat atau sederajatnya lantas tidak boleh jadi makmumnya. Bukan seperti itu.

Pak Rektor bisa saja mengambil shaf terdepan tapi beliau tentu saja tidak akan meminta orang-orang di shaf terdepan untuk bertukar posisi dengan beliau. Istilah gaulnya adalah, “Kamu siapa kok berani-beraninya mau tukar posisi shaf??” Menurut saya saat sholat berjamaah itu, atribut dunia tidak berlaku lagi. Semua atribut seperti jabatan, kedudukan, kekayaan, semua ditinggalkan di dalam sholat berjamaah. Tapi sehubungan dengan hal itu ada cerita yang menarik tentang jabatan dan posisi shaf sholat. Ini pengalaman salah satu rekan saya di Komunitas Blogger Probolinggo yang beliau tuangkan dalam artikel “Shaf Shalat VIP untuk Pejabat”.

Singkat ceritanya, rekan saya itu punya kenalan yang memang sudah tua dan beliau sejak rekan saya masih SD sudah langganan shaf pertama tengah, biasanya di sebelah muadzin karena saking cintanya dengan shaf terdepan. Tapi suatu hari beliau disuruh pindah ke barisan belakang karena diperintahkan petugas pemkot. Alasannya sederhana, Walikota hendak menunaikan sholat berjamaah di sana dan untuk shaf pertama dipesan untuk tempat walikota dan jajarannya. Entah ini hal yang lucu atau memang miris saat shaf saja bisa dipesan untuk kalangan tertentu padahal shaf sholat itu adalah hak semua orang.

lantas apakah jika Walikota sedikit terlambat menghadiri sholat berjamaah lalu tidak mendapatkan shaf terdepan menjadi kehilangan reputasi dan wibawa? Saya rasa tidak, dan mungkin kejadian tadi adalah salah satu “aturan” milik pemkot jadi sebagai rakyat biasa ya manut-manut saja dengan kebijakan mereka.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)

“Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya kami ciptakan kamu sebagai laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan beraneka suku agar kalian mudah untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah yang paling baik taqwanya.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Bukan maksud saya untuk mempermasalahkan shaf sholat berjamaah dengan atribut orang yang menempatinya karena berdasarkan ayat di atas kemuliaan Taqwa lah yang lebih bernilai di sisi Allah, bukan atribut sosial dan atribut keduniaan lainnya. Sholat berjamaah ini adalah esensinya di mana semua orang sama, ruku’ bersama, sujud bersama yang berarti dalam kehidupan dunia kita adalah sama. Yang membedakan adalah tingkatan taqwanya.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil di sini, dan jika ada kesalahan mohon koreksinya :)

6 Responses to “Sebuah Hikmah dari Shaf Sholat Berjamaah”

  1. Assalamu’alaikum,. 😆 :roll:

  2. Rasyidan Razak says:

    Assalamu’alaikum.

    Posting yang cukup bagus. Ketika membaca bagian awal, saya sempat berpikir untuk mengkontraskan artikel ini dalam bagian komentar dengan kebiasaan presiden kita yang pasti di shaf terdepan di Istiqlal. Namun ternyata anda tulis juga di bagian akhir posting anda tentang pejabat yang (sebagian besar) selalu ingin ada di shaf terdepan :-)

    Posting yang cukup bagus, saya menikmatinya :-)

    • Didik says:

      waalaikumsalam

      terima kasih sudah mampir :) Iya memang sepertinya sudah jadi budaya di negeri ini para pejabatnya harus ada di shaf terdepan. yaa semoga tidak mengurangi esensi dari sholatnya saja :)

  3. perdana says:

    Sekedar menanggapi saja, kalaw menurut saya benar banget kalaw Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah yang paling baik taqwanya namun yang perlu digaris bawahi seberapa besar taqwa kita, nah itu perlu kita buktikan dengan usaha kita dalam menjalankan perintah-Nya. Nah kalaw menurut saya kenapa shaf sholat yg pertama lebih utama, Pertama sudah hadistnya
    “Sebaik-baik shaf kaum laki-laki adalah di depan, dan sejelek-jeleknya adalah paling belakang. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim no. 440). ” majulah ke depan dan bermakmumlah di belakangku, dan hendaklah orang yang datang setelah kalian bermakmum di belakang kalian. Terus-menerus suatu kaum itu membiasakan diri terlambat mendatangi shalat, hingga Allah juga mengundurkan mereka (masuk ke dalam surga).”(HR. Muslim no. 438). Kedua, usaha kita menempati shaf pertama membuktikan usaha kita untuk meraih keTaqwaan itu, Fastabiqul Khoirot, so nggak ada salahnya kita memperebutkan untuk berada di Shaf Pertama. Sukron mas didik

    • Didik says:

      syukron per sudah mampir 😀

      iya bener berebutlah secara elegan, asal jangan nyuruh yg udah menempatin shaf depan terus pindah ke belakang hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *