Rejeki Mudik yang Sebenarnya

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Jadi menurutmu rejeki mudik itu apa?

rejeki

THR?

Dapat jatah bagi-bagi uang dari saudara?

Dapat makanan dari kerabat?

Atau malah dijodohin sama keluarga?

Kalau ada salah satu dari jawaban di atas yang menjadi jawaban kalian maka jawabannya benar dan sah. Tapi ketika saya mencoba melihat dari perspektif yang berbeda saya menemukan sesuatu yang sering saya lupakan tentang rejeki mudik itu sendiri. Apakah itu? Subhanallah, rejekinya ya keluarga itu sendiri!

Bayangkan jika kita hanya sebatang kara tak ada kerabat seorang pun dan ketika berlebaran tak ada kesematan menjalin kasih sayang dengan keluarga lainnya. Sesuatu yang sukar dibandingkan dengan rasanya bertemu dengan keluarga terutama yang berpisah dalam masa yang lama. Ketika kita masih bisa mendapat senyum sapa, jabat tangan keluarga, maka saat itulah rejeki yang besar telah kita dapatkan.

“Memang apa hubungannya antara keluarga dengan rejeki?”

“Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu, engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturahim itu akan menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta, dan memperpanjang umur.” (HR Ahmad)

Mau hidup tanpa keluarga? Kalau mau ya silahkan saja hehehe, tapi saya bilangnya kasih sayang di dalam keluarga itu rejeki yang luar biasa dan seringkali lupa untuk disyukuri oleh manusia. Coba hal itu rasakan saat sedang berkumpul bersama keluarga, atau sekedar bertemu dengan keluarga yang lain. Lihat kalau ada kerabat yang sedang kesulitan, kerabat yang lain akan membantunya tanpa harus takut rugi sesuatu bahkan mengumpulkan kerabat yang lain untuk mencari solusi bagaimana cara menyelamatkan kerabat yang sedang kesulitan itu. Rejeki kan namanya? Jika di luar sana ada yang memang tidak lagi memiliki keluarga, semoga Allah mencukupkan rahmat dan cinta-Nya sebagai ganti keluarganya yang tidak ada.

Sekali lagi, rejeki tidak selalu dimaknai dengan uang dan harta. Tapi dengan menjalin silaturahim, pintu rejeki lainnya pasti akan terbuja. Gak percaya silahkan dibuktikan sendiri :)

Yang masih menganggur lalu menjalin silaturahim, tiba-tiba ada saudara yang menawarkan pekerjaan.

Yang galau jodoh tiba-tiba dikenalin “seseorang” oleh saudara.

Yang sedang kesusahan jadi kembali senang karena banyak keluarga yang memberi semangat.

Yang merasa hidup tidak ada artinya jadi bersemangat kembali karena dukungan dan pertolongan keluarga yang mencintainya.

Maka di situlah pintu rejeki yang lain. Masih banyak sebenarnya pintu rejeki dari silaturahim itu, lalu mengapa kita harus ragu dengan keluarga kita sendiri? Toh jelas-jelas keluarga itu berazaz kekeluargaan jadi tidak perlulah merasa takut rugi. Selain itu keluarga juga adalah yang lebih berhak pertama kali membutuhkan pertolongan kita saat sedang dibutuhkan. :)

Yang sedang mudik untuk bertemu keluarga semoga selalu ada berkah dari Allah.

Insya Allah.

2 Responses to “Rejeki Mudik yang Sebenarnya”

  1. Dyah Oktavia says:

    Saya dari Surabaya ke Probolinggo waktu libur semester termasuk mudik nggak yaa? :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *