Masihkah Kita Masih Mengeluhkan Hidup?

Bismillaahirrohmaanirrohiim

regret

Semalam saya berjalan di salah satu jalanan kota Jakarta yang tidak saya ketahui. Yaa nyasar adalah kata ganti yang tepat. Di salah satu sudut kota saya melihat dua anak kecil yang nampaknya bersaudara bergumul dan bercanda di atas tumpukan karung yang saya duga berisi kumpulan sampah. Mereka bermain di atasnya dan nampak ayahnya hanya duduk di belakang mereka. Sejenak saya berpikir dengan peristiwa itu, yang kemudian sedikit menyita perhatian saya.

Yaa anak-anak calon generasi penerus bangsa itu rasanya tak memiliki beban hidup dengan segala kekurangannya, atau mungkin mereka belum memikirkan beratnya beban hidup. Sang ayah mungkin merasakannya, merasa bahwa bertahan hidup merupakan suatu perjuangan, walau itu didapatkannya dari kumpulan sampah yang dianggap tak berguna oleh sebagian besar orang.

sigh, rasanya saya sangat tidak pantas mengeluhkan tentang apa yang namanya pendapatan. Apa yang harus saya keluhkan? toh saya tak lagi memikirkan besok bisa makan atau tidak, sementara mereka bisa jadi bingung apakah besok keluarganya bisa makan atau tidak. Tapi salut untuk mereka yang menjaga diri dari meminta-minta walau sebenarnya mengumpulkan sampah itu hasilnya tak seberapa.

Pernah seorang teman mencoba mengkritisi gaji yang akan kami terima. Wiih, saya tak berani menjawab karena nilainya 400% lebih banyak dari gaji pertama saya. Karena bagi saya itu sudah lebih dari cukup buat saya. Intinya apa? BERSYUKUR sob, tidak ada sesuatu yang disebut dengan “kurang” jika sudah kita penuhi dengan rasa syukur.

Pemandangan semalam mengingatkan saya pribadi bahwa mensyukuri hidup adalah sesuatu yang sering terlupakan. Hati mengeras dengan sibuknya urusan dunia tanpa menengok realita hidup di sekitar kita. Melihat di luar sana banyak saudara kita yang masih kurang beruntung secara materi dibanding kita, dan jangan sekali-sekali menganggapnya remeh karena bisa jadi mereka lebih banyak mensyukuri apa yang mereka dapatkan daripada kita.

Masihkah kita harus mengeluhkan hidup, Sob?

Wallahua’lam . . .

 

One Response to “Masihkah Kita Masih Mengeluhkan Hidup?”

  1. […] Masihkah kita mengeluhkan hidup? […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *