[Jurnal Perjalanan] Gowas-Gowes Asem

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Kembali lagi di seri Jurnal Perjalanan saya yang memang seru. *iya ini kata saya*. Kali ini tentang acara bersepeda antara saya dengan teman saya bernama Rizky. Bagaimana cerita gowes asem ini?

Begini ceritanya . . .

Ini terjadi ketika saya masih SMP hanya saja kelas berapa saya sudah lupa. Minggu itu saya dan beberapa teman-teman di perumahan bersepeda ke daerah yang sedikit menanjak, kurang lebih 10 KM jaraknya. Lumayan penghilang kejenuhan sambil melihat pemandangan hijau setelah 6 hari berkutat dengan buku-buku pelajaran. Dalam perjalanan pulang, saya dan Rizki berbincang-bincang bahwa kita butuh acara gowes dengan medan yang lebih menantang. Akhirnya ditetapkanlah bahwa minggu depan kita berdua berencana gowes ke kota Probolinggo. FYI, jarak dari rumah ke Kota kurang lebih 25 Km. Cukup menantang juga karena kita belum pernah gowes sejauh itu.

Hari-H tiba dan sesuai rencana saya dan Rizky berangkat ke kota Probolinggo sekitar pukul setengah 6. Tidak ada persiapan khusus, saya pun tidak membawa bekal atau uang saku sekalipun. Rizky memiliki perbekalan dengan uang 1000 rupiah saja 😐 okelah setidaknya udara pagi membuat kita semangat mengayuhkan sepeda ke kota yang lumayan jauh itu. Jalan masih belum begitu ramai sehingga perjalanan terasa menyenangkan.

Sekitar setengah 9 kita sudah sampai di gerbang kota, bahagia terasa kita bisa menaklukkan jalan itu. Lalu terjadilah percakapan,

Saya: “Sampai juga nih, terus kita mau kemana?”

Rizky: “Hmm gak tahu.”

Pelajaran pertama, selalu tentukan tujuan ketika kita akan pergi.

Imbasnya kita muter-muter gak jelas di dalam kota dan kita memutuskan untuk pulang. Haus, lapar, dan lelah mulai terasa ditambah sinar matahari yang mulai terik. Saya tidak membawa uang dan Rizky hanya membawa uang seribu rupiah, dapat apa dengan uang segitu? Semacam putus asa karena kita harus menempuh 20 Km lagi tanpa logistik sama sekali, Rizky dengan cerdasnya menggunakan uang itu untuk menelepon temannya menggunakan jasa wartel (Sekarang udah gak ada ya? 😀 ). Satu-satunya dana logistik kita telah habis, dan ternyata Rizky menelepon temannya untuk minta tolong agar menyediakan tempat singgah buat kami hahaha, cerdas juga pikir saya.

Pelajaran kedua, manfaatkan teman atau kerabat untuk meminta pertolongan 😀

Hanya dapat segelas teh hangat, yah lumayan untuk simpanan tenaga karena perjalanan masih panjang. Bisa ditebak, baru beberapa kilo melanjutkan perjalanan haus dan lapar kembali menyerang. Sedangkan jarak menuju rumah masih sekitar 15 Km. Perjalanan ini tidak menyenangkan lagi, panas terik, lelah, belum lagi kendaraan-kendaraan besar yang seolah menganggap kami tidak ada di jalan sehingga seringkali kita hampir terserempet sampai turun dari jalan aspal.

Rizky nampaknya masih kuat menahan lapar karena dia memiliki badan yang cukup berisi. Cadangan lemak yang dibakar masih cukup kalau hanya untuk perjalanan pulang. Saya tidak ada opsi itu, badan kecil dan kurus seperti zombie kurang gizi nampaknya harus segera mencari sesuatu yang bisa dimakan. Saya memandang pohon asam yang ada di sepanjang tepi jalan. Ahaa, buah asam ini sepertinya bisa jadi bekal logistik yang bagus. Saya berhenti di bawah pohon asam sambil mencari buahnya yang jatuh dan masak. Beberapa kali saya berhenti di bawah pohon asam untuk mengumpulkan asam. Setelah cukup banyak terkumpul, sambil mengayuh sepeda saya memakannya. Sejurus kemudian saya mulai berpikir,

“Makan buah asam ini ide buruk”

Saya tidak lagi meneruskan makan asam karena hanya membuat perut semakin terasa melilit. Terlihat ada batang tebu yang tergeletak pasrah di atas aspal, nampaknya terjatuh dari truk. Cukup menggoda untuk saya selamatkan dan jadi logistik sepanjang perjalanan, tapi Rizky menolak. Mungkin masalah dignity 😀

Pelajaran ketiga, siapkan bekal dan dana untuk perjalanan jauh.

Akhirnya kami sampai ke kampung halaman di tengah hari. Adzan dhuhur nampaknya sudah lewat, kami langsung menuju rumah masing-masing, lelah, dan ingin segera beristirahat. Dengan wajah kusam saya mengeluarkan beberapa genggam buah asam untuk Ibu, lumayan untuk bahan sayur asem.

Pelajaran keempat, survival itu butuh mental dan keyakinan.

Semoga cerita ini menghibur untuk pembaca :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *