[Napak Tilas] Ijinkan Aku Meminang Sahabatmu

history

Bismillaahirrohmaanirrohiim

history

Saya sedang seru-serunya membasmi musuh sebagai “Soap” di Call Of Duty Modern Warfare saat malam sudah sangat larut, kemudian terdistraksi dengan sms yang dari seseorang yang membuat saya tersentak.

“Didiiik, kamu bilang apa sama mas nya? Ini serius apa gak?” *intinya gitu, lupa juga sih*

Oww, baiklah ini pertanda bahwa bom waktu meledak dan saya harus segera kembali ke Malang untuk mengatasinya. Bukan bom sebenarnya, ini tentang masalah seorang sahabat yang gagal bertemu seorang sahabat saya juga dengan maksud untuk ngajakin nikah akhirnya nekat ngajakin nikah lewat media hp karena udah gak tahan lagi.

Prolog…

Sedikit cerita, sahabat saya sebut saja “A”, lelaki dan juga rekan seperjuangan dari jaman Mabna Ibnu Kholdun, sekelas di kampus, satu komunitas, sampe satu kontrakan punya keinginan menikah dengan salah seorang sahabat saya si “M” yang merupakan wanita cerdas dan saya adalah rekan seperjuangan dari SMP sampe SMA dan beberapa kali sebangku. Eh, wait… bukan, saya sebangkunya sama si Hafgan, ketua OSIS SMA gokil dulu. “A” dan “M” ini ketemu di satu momen wisuda lalu setelah pertemuan itu gak ketemu lagi dan entah mengapa si “A” ini sukses buat saya kaget karena milih “M” sebagai calon istri. Oke, setelah negosiasi yang seadanya akhirnya saya bantuin agar “A” bisa ketemu si “M” untuk mengutarakan maksudnya.

Saya yang notabene nyari calon istri sendiri aja belom bisa, ini malah nyariin calon istri buat orang lain. Ditambah ribetnya moment pindahan kontrakan membuat rencana banyak diundur-undur sampe gagal karena saya harus pulang karena ada keperluan. Yup lalu selanjutnya terjadi kejadian di awal cerita di atas.

Sesampainya di Malang, “A” dengan hati yang mantap sanggup menjawab tantangan dari “M” untuk datang ke rumahnya dan berbicara langsung dengan orang tuanya. Berangkatlah dia ke kampung halaman untuk meminta restu dari orang tuanya, lalu esoknya kembali ke Malang untuk menjemput mak comblang (Penulis) yang sekaligus bertindak sebagai penunjuk arah ke kediaman “M”.

Transit dulu di rumah untuk menyusun strategi. Tepatnya menyusun buah tangan karena “A” cuma bawa beberapa kotak kurma sehingga akhirnya memilih membeli beberapa buah-buahan dan dibungkus ala parsel. Saya sudah bisa bayangin gimana gugupnya “A” sebelum bertemu keluarga “M” dan belum lagi menghabiskan separuh hari di bulan Ramadhan di jalanan untuk ke kota saya.

Waktunya Beraksi…

Ba’da Ashar saya mengantar si “A” ke rumah “M” yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah saya dalam rangka undangan pemaparan niat dan buka bersama keluarga. Saya bak pembawa acara “Masih Dunia Lain” yang nganterin peserta ke uji nyali karena saya langsung kembali ke rumah sambil berharap “A” tidak melambaikan tangan tanda menyerah hahaha 😀

Kira-kira waktu selesai shalat teraweh, dia kembali ke rumah dengan wajah sumringah yang berarti pemaparan sukses dan proposal diterima *ah macam ujian proposal pula ini*. Alhamdulillah langkah awal sudah selesai, menunggu kesepakatan antar kedua belah pihak keluarga untuk saling bertemu dan membicarakan agenda selanjutnya. Setelah sampai sini saya sudah tidak banyak aktif berkontribusi lagi. Mission accomplished.

Sayang sekali tidak bisa menghadiri…

Banyak momen setelahnya yang saya tidak bisa ikut karena saya harus ke Jakarta karena urusan pekerjaan. Dari prosesi lamaran sampe pernikahannya. Makin nyesek tatkala ibunda si “M” mengirim pesan bahwa beliau begitu menyayangkan saya yang tidak bisa hadir di acara pernikahan anaknya, bahkan menganggap saya adalah tamu pentingnya 😮 Maap, maap sekali doraemon gak ada di dunia nyata. Kalopun ada saya udah pasti nyempal ke sana. Barakallah buat kalian semua…

Ramadhan selanjutnya…

Oke, ini sudah tahun ke dua Ramadhan mereka resmi menjadi suami istri. Tahun lalu masih berdua saat silaturahim ke rumah saya, dan inshaa Allah jika sudah waktunya bakal ada “junior” yang akan hadir di tengah-tengah mereka. Aamiin. Dan sampai sekarang pun saya masih merasa “kok bisa yaa?” gitu kalo menyadari mereka bisa jadi suami istri. Mungkin hanya ada satu kali momen dalam hidup saya bisa melihat dua sahabat saya yang katakanlah saya melalui waktu dengan mereka di zaman yang berbeda. Zaman sekolah dan kuliah. Zaman ketika saya latihan senam aerobik untuk tugas sekolah sama “M” dengan jaman dioprak-oprak polisi saat menggalau di jembatan Suhat Malang bersama “A”.

Dua orang dengan dua kenangan yang berbeda kemudian bersatu membentuk kenangan baru buat saya. Menakjubkan sekali rasanya…

Yaa, semoga kalian langgeng sampe di jannah-Nya ya. Titip doain juga yang cuap-cuap ini hahaha… See you at home 😀

Btw, siapa sih “A” dan “M” itu?

Biarkan foto-foto berikut yang menjelaskannya 😀

Alfi Setyadi Mochtar

Alfi Setyadi Mochtar

Marinda Sari Sofiyana

Marinda Sari Sofiyana

Yang mau kepoin monggo follow @alfiMochtar dan @marindasarii 😀

Oh iya, kalo gak berkenan fotonya dipajang silahkan protes yak nanti saya hapus..

Semoga berkenan dan menginspirasi rekan-rekan biar cepet nyusul menggenapkan separuh agamanya. aamiin :)

2 Responses to “[Napak Tilas] Ijinkan Aku Meminang Sahabatmu”

  1. Dyah Oktavia says:

    Mas, kapan nikah? #pertanyaanstandar 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *