Menanjak Dalam Takwa atau Menurun Dalam Dosa?

arah hidup

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ada yang pernah naik gunung atau minimal jalan di tanjakan yang cukup curam? Rasanya jalan menanjak itu butuh waktu yang lebih lama dan melelahkan untuk sampai di tujuan daripada jalan menurun apalagi jika dilakukan dengan jalan kaki atau mengayuh sepeda. Saya merasa bahwa hal itu dapat dianalogikan pada takwa dan dosa. Jalan ketakwaan dengan puncaknya adalah Allah itu jalan yang penuh tanjakan, sedangkan jalan dosa itu jalan yang selalu menurun dan membuat semakin jauh dengan Allah.

Naik Menuju Takwa

menuju puncak

Bahwa membuat iman dan takwa kita selalu naik adalah suatu perjuangan seolah-olah seperti jalan di tanjakan yang tinggi alias tidak menyenangkan. Atas izin Allah tentu semakin naik akan semakin baik pula prestasinya. Atau seringkali mempertahankan diri untuk tetap berdiri tanpa harus terjatuh mundur pun menjadi hal yang berat. Manusia yang tempatnya salah ada saatnya terpeleset dan terseret turun dari jalan takwa itu.

Yang menjadi keharusan adalah bagaimana menjaga agar tidak turun atau tidak terlalu jauh turun. Sebaliknya kebahagiaan akan muncul jika kita bisa menaiki jalan takwa itu dengan baik. Tak perlu satu lompatan jauh, sedikit demi sedikit tapi selalu naik itu sudah baik. Nama lainnya adalah istiqomah.

Atas izin Allah pula jalan itu diterangi oleh-Nya sehingga walaupun jalan tersebut sulit dan menanjak tapi nampak jelas kemana tujuan dan pertolongan yang akan diperoleh.

Turun Ke Lembah Dosa

kecewa

Ada tanjakan juga ada turunan seperti halnya jalanan. Lawan dari tanjakan takwa adalah turunan dosa. Seringkali turunan ini sifatnya menyenangkan, bahkan kita diam pun tapi saat membiarkan diri turun ya bakalan turun juga. Menggelinding misalnya 😀 Sebagian dari kita (termasuk saya) seringkali terperdaya oleh turunan ini dan membiarkan diri kita turun terlalu jauh. Bergelimang maksiat yang membuat kita semakin jauh dari Allah. Lebih menakutkan lagi jika Allah meredupkan cahaya iman dan hidayahnya sehingga kita hanya melihat jalanan turun menuju dosa tanpa ada lagi jalan meraih iman. Naudzubillah.

Kita mungkin saja pernah tersadar lalu kita berhenti turun untuk kembali naik, tapi seringkali tak sebanding pencapaian jarak dengan seberapa jauh kita turun bermaksiat. Sedekah 10 ribu tapi korupsi 100 ribu, yang ada minus iman. Itulah bahayanya dosa, ketika kita terlalu banyak dosa, semakin berat kita mencapai takwa. Atau takwa yang sudah mulai terbentuk seketika dihancurkan oleh sebuah dosa. Bagaimana rusaknya keistiqomahan sholat fardhu tepat waktu karena lalai mengikuti syahwat mendekati zina.

Tanpa petunjuk Allah, kita mungkin tidak akan bisa bangkit bertakwa dan sebaliknya tenggelam ke lembah dosa.

Bersama dengan Jamaah

Waktu lalu saya pernah menulis bagaimana membangun semangat beribadah bersama jamaah. Akan lebih mudah menanjak meraih takwa bersama dengan jamaah yang memiliki keinginan yang sama. Jamaah saling menjaga agar salah satu dari kita tidak terseret mundur bahkan bersatu dan saling memotivasi agar dapat menanjak lebih cepat. Lingkungan sekitar adalah salah satu contoh untuk gambaran “jamaah” ini. Bukankah lebih mudah bagi kita sholat berjamaah di masjid jika para tetangga atau keluarga juga melakukan hal yang sama daripada melakukannya seorang diri?

Barangkali kita lebih memilih jamaah lain yang mengikuti aliran “turun gunung”? Bareng-bareng maksiat mungkin lebih terasa menyenangkan karena dilakukan rame-rame dan penuh gelak tawa. Bukankah juga menyenangkan bisa rame-rame bersama pacar merayakan hari valentine kemudian terjerumus lebih jauh ke dalam zina?

Itu mengapa jamaah seringkali berperan penting terhadap kemana arah yang kita tuju. Semakin baik lingkungan atau jamaahnya, semakin baik pula bagi kita dan juga berlaku untuk sebaliknya.

Penutup

Hidayah adalah milik Allah, adalah tugas kita untuk mencari dan memintanya agar kita tidak salah jalan. Berjuanglah untuk naik karena itu akan membuatmu lebih kuat dan berjuanglah untuk tidak tergelincir karena itu akan semakin membuatmu jauh dengan Allah.

Wallahu a’lam..

Semoga bermanfaat :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *