Bismillaahirrohmaanirrohiim
Kita mungkin pernah mendengar bahwa sesuatu yang kita lakukan itu tergantung dengan niat. Yang menarik adalah kadang suatu perbuatan mulia bisa jadi rusak hanya karena niat yang tidak benar. Misalkan saja Saya beramal untuk pembangunan masjid sampai puluhan juta rupiah, tapi dalam hati saya justru niatnya ingin dipandang sebagai dermawan.
Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”
Seorang ulama saja masih merasa sulit, bagaimana dengan kita?
Niat dan ikhlas itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Idealnya niat itu tujuannya untuk Allah SWT dan dimurnikan dengan yang namanya ikhlas.
Ikhlas berasal dari kata khalasha yang secara bahasa berarti membersihkan. Sedangkan secara istilah artinya membersihkan niat dan motivasi, serta hanya menjadikan Allah sebagai tujuan. Lawan dari ikhlas adalah riya’, yaitu beramal karena mencari keridhaan manusia, ingin dipuji, dan bukan karena Allah.
Di dalam Al-Qur’an disebutkan:
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 264) Continue reading

